Warga DKI Jakarta Diminta Waspadai Pergerakan Tanah

SIR.COM, Jakarta – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau warga mewaspadai potensi pergerakan tanah di sejumlah lokasi pada Mei 2019. Laman resmi www.bpnd.jakarta.go.id, di Jakarta, Kamis (9/5), menginformasikan peringatan dini bagi warga DKI agar mewaspasdai bencana pergerakan tanah. Petugas BPBD DKI Jakarta juga meminta para camat dan lurah mengantisipasi potensi pergerakan tanah saat curah hujan meningkat atau berintensitas tinggi.

Dijelaskan laman BPBD Jakarta, gerakan tanah merupakan suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia.

Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng. Jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, akan mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi. Selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali.

Tanah longsor sebagai bentuk erosi pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Ditinjau dari segi gerakannya, maka selain longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan massa tanah, yaitu rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall), dan aliran lumpur (mud flow).

Karena massa yang bergerak dalam longsor merupakan massa yang besar, maka sering kejadian longsor akan membawa korban berupa kerusakan lingkungan, yaitu lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur, serta hilangnya nyawa manusia.

Gerakan Tanah

Proses terjadinya gerakan tanah melibatkan interaksi yang kompleks antara aspek geologi, geomorfologi, hidrologi, curah hujan, dan tata guna lahan.

Beberapa wilayah yang berpotensi terjadi pergerakan lahan tingkat menengah, yakni Jakarta Selatan, meliputi Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan. Wilayah Jakarta Timur mencakup Kramat Jati dan Pasar Rebo.

Sementara itu, pergeseran tanah di Kampung Gunungbatu, Kabupaten Sukabumi semakin parah meskipun masa tanggap darurat bencana itu sudah dicabut terhitung sejak 6 Mei 2019. “Setiap hari tanah terus bergeser dan retakannya semakin membesar bahkan ada beberapa titik tanah di lahan pertanian di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung ini amblas sekitar tiga meter,” kata tokoh masyarakat Desa Kertaangsana, Aseh Has, di Sukabumi, Kamis (9/5).

Menurutnya, pergeseran tanah ini semakin masif. Rumah yang awalnya hanya bagian fondasinya yang amblas sekarang sudah badannya yang tenggelam ke dalam tanah. Belum lagi lahan pertanian yang rusak porak poranda akibat retakan dan amblasnya semakin parah.

Meskipun hingga saat ini tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut, seluruh warga yang sudah mengungsi tetap khawatir karena pergeseran tanah ini semakin meluas dan tidak menutup kemungkinan hingga mencapai posko pengungsian yang jaraknya tidak jauh dari lokasi. Raihan