Sandiaga Salahuddin Uno : Politik harus Mencerahkan dan Menggembirakan

Bakal calon wakil presiden Pilpres 2019 Sandiaga Uno (kanan) tiba untuk menjalani tes kesehatan di RSPAD, Jakarta, Senin (13/8). KPU menyelenggarakan tes kesehatan bagi para kandidat capres dan cawapres Pilpres 2019. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.

Namanya dikenal sebagai pengusaha sukses. Transformasi hidup membawanya ke dunia politik. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, kini menjadi calon wakil presiden Bersama Prabowo Subianto. Ia berbicara tentang gaya politik hingga kedewasaan dalam berpolitik

Donald Trump begitu populer karena Trump dengan bahasa yang lugas dan simpel, dibandingkan Hillary Clinton. Apa Anda tidak berusaha  mengikuti tren ini?

Saya nggak mau mengikuti tren di luar kearifan yang  dimiliki bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia kaya akan budaya, kita beradab, kita punya kesopanan, gotong royong, bagaimana politik bisa jadi silaturahmi.  Politik Indonesia itu luar biasa, sekarang menjadi panutan dari banyak negara.  Saya rasa demokrasi dan nasional religius adalah suatu brand yang sangat baik. Buat apa kita  meniru- niru asing, Trump untuk menjadi populer.

Saya nggak akan mengubah sama sekali gaya saya karena saya yakin juga  bahwa kalau saya mengubah gaya saya maka saya tidak akan menjadi diri saya sendiri, saya akan tersiksa sekali. Kita berikan yang terbaik yang kita miliki. Solusi yang kita tawarkan, yang baik kita bilang baik, yang kurang baik  kita perbaiki.  Jangan pernah mencaci maki dan  menjelekkan orang lain, jangan pernah negatif, jangan menanam pesimisme dan ketakutan pada warga tapi kita menanam optimisme.

Kadang-kadang gaya politik di instagram Anda nyentrik, ada jurus bangau, renang dan sebagainya. Apakah ini strategi komunikasi Anda?

Nggak juga, semuanya mengalir secara alami, yang bangau misalnya itu mau diambil foto waktu kita pertama kali fitting seragam, semuanya tegang. Mas Anies tegang karena orangnya perfeksionis. Para pengambil foto juga tegang. Saya bilang ini kita buat sedikit fun, kebetulan saya suka lihat yoga buat keseimbangan. Saya bilang biar posenya bagus dan sebetulnya saya sudah coba gaya bangau di  beberapa tempat sebelumnya dan sebetulnya bukan sesuatu yang baru, hanya momennya saja. Jadi menurut saya mengalir secara alami. Banyak yang mengapresiasi karena ini fun, dan  banyak juga teman saya yang  mengatakan jaim dong kan sudah mau jadi pejabat. Saya bilang politik itu juga harus mencerahkan dan menggembirakan.

Ide apa yang akan Anda bawa kepada masyarakat tentang pasangan Prabowo-Sandi?

Saya rasa fokusnya di ekonomi, lapangan pekerjaan, harga-harga bahan pokok atau sembako,  stabilitas dari biaya hidup dan fokusnya harus ada pemerintahan yang kuat, bersih dan juga percepatan pembangunan.

Bagaimana persiapan tim Anda untuk menghadapi isu ekonomi ini?

Kita harapkan bahwa prosedur dalam penyusunan strategi bisa kita lalui secara prima. Kami pertama kali yang  mengangkat isu ekonomi di pilpres ini. Jadi isu sentral ekonomi yang akan menjadi pembahasan utama, salah satunya dalam bulan-bulan ke depan ini dalam keadaan ekonomi yang memerlukan suatu langkah strategis, kewaspadaan yang sangat cermat dan teliti untuk memastikan bahwa lapangan kerja kerja, beban biaya hidup, harga bahan- bahan pokok tidak semakin membebani khususnya rakyat kecil.

Apa yang paling berkesan dalam benak Anda selama 10 bulan mencoba membenahi Jakarta?

10 bulan itu waktu yang terlalu singkat dan pekerjaan di Jakarta  tidak bisa selesai 5 tahun, 10 tahun atau 15 tahun. Masalah utama di DKI lapangan pekerjaan, biaya hidup yang terjangkau, juga masalah perumahan itu butuh belasan atau puluhan tahun untuk menyelesaikan. Saya melihat ini adalah kontinuitas dari  kerja-kerja gubernur dan wakil gubernur sebelumnya. Dan bagi saya dalam 10 bulan ini saya bersyukur  bisa bekerjasama dengan mas Anies dan seluruh Pemprov DKI  termasuk DPRD-nya juga saya  sampaikan bahwa saya betul-betul kehilangan kebersamaan ini.  Awal-awal dari kerja kita banyak yang skeptis, tapi seperti OK OCE sekarang sudah 50 ribu.

Ada analisis yang berkembang bahwa Anda sebagai pengusaha dengan harta yang cukup  besar sekitar Rp 4-5 triliun,  dan kemudian biaya untuk pemilu cukup besar. Apa Anda dipilih karena siap untuk membiayai logistik  untuk keperluan pemilu itu?

Pembicaraan itu tidak pernah ada, dan memang seperti kita ketahui  fokus dari ekonomi ini terus yang digaungkan. Bulan Februari 2018 Pak Prabowo menunjuk saya sebagai ketua tim persiapan dan banyak hubungan yang dijalin bersama calon-calon kandidat mitra koalisi seperti dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dalam pembicaraan tersebut kita ingin melihat bagaimana fokus kita terhadap masalah-masalah yang diaspirasikan masyarakat ini bisa tertangkap. Pada satu titik itu kita sama- sama tahu bahwa mas Anies yang menjadi pilihan pertama Pak Prabowo. Saya dalam hati kecil merasa kecocokan yang luar biasa dengan mas Anies, sinergi diantara kita berdua tandemnya enak sekali. Di hati kecil saya juga ragu apakah dia mau meninggalkan tugasnya di Jakarta,  akhirnya dia menunjukkan kepada Indonesia bahwa dia berkomitmen untuk menuntaskan  janjinya untuk 5 tahun mengurus Jakarta.

Langkah- langkah apa yang  dilakukan untuk meredam kemungkinan terjadinya dinamika atau pergolakan dalam koalisi pasca penunjukan Anda sebagai calon wakil presiden?

Ya terus berkomunikasi dan membangun kepercayaan bahwa saya hadir di sini untuk mempersatukan dengan pengetahuan yang saya miliki. Pak Prabowo menunjuk saya ini merupakan amanah. Ini beban yang sangat berat buat saya, dan saat itu juga saya mempertimbangkan untuk berhenti secara segera dari  jabatan saya sebagai wakil gubernur. Oleh karena itu saya ingin meyakinkan mitra koalisi. Alhamdulillah komunikasi dengan Partai Demokrat sekarang sudah berjalan dengan baik  dan kita sudah mulai mengkonsolidasikan tim kita dan kinerja ini akan terus semakin  dioptimalkan menuju nanti 7,5 bulan ke depan.

Bagaimana tanggapan Anda tentang rumor adanya mahar politik?

Saya sudah berulangkali memberi klarifikasi bahwa itu tidak benar, sudah saya bantah dan sudah saya garisbawahi bahwa saya siap memberikan klarifikasi, jadi tidak benar apa yang diungkapkan baik mahar atau statement yang dikupas oleh media. Saya sudah ke KPK dan bisa dilihat Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) saya, dan pergerakan LHKPN saya karena saya satu- satunya mungkin dari sedikit politisi  yang harus melaporkan tiap 3 bulan karena 90 persen dari LHKPN saya ada di bursa efek.

Waktu pilkada DKI account kita satu satunya yang audit sebelum penetapan dan setelah penetapan, dua kali kami audit dan kami menunjukkan bahwa kami ingin transparan dan ini suatu nuansa politik yang baru bagi kita bahwa transparansi itu harus kita junjung tinggi dan tidak boleh ada hengki pengki dalam politik kita.

 

Kedewasaan Berpolitik

Setelah Anda ditetapkan sebagai bakal calon wakil presiden, kemudian bersama Pak Prabowo berkunjung ke Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas-ormas lain, ini bagian dari silaturahmi atau bagian dari menarik suara?

Ini murni kami  untuk sowan, mohon doa restu, silaturahmi, mohon ijin sebagai adat orang timur, orang Indonesia, kepada organisasi-organisasi besar, kepada senior-senior saya, kan semua diukur dari niatnya. Nawaitu kita adalah bersilaturahim dan kebetulan Pak Prabowo dan saya banyak berhubungan baik dengan organisasi-organisasi, kawan-kawan.

Jadi bukan niatan untuk sekedar menarik suara?

Saya rasa moral dari konstituen-konstituen tersebut sudah matang berorganisasi, jadi tujuan kita murni hanya untuk bersilaturahim dan pada saatnya nanti ditetapkan lalu kita mulai bersosialisasi, berkampanye.

Begitu datang ke Nahdlatul Ulama (NU) kemudian Pak Prabowo dapat kartu anggota NU ya?

Ya, dan saya sudah dapat duluan.

Artinya apa dengan Kartu Anggota NU itu?

Ya dua tahun lalu waktu kegiatan NU santripreneur saya diundang menerima kartu tanda anggota NU waktu di-launching bulan puasa 2016. Bagi saya NU merupakan keluarga sendiri dan organisasi yang menaungi  begitu banyak masyarakat Indonesia.

Beredar viral kejadian pesilat yang mempertemukan Pak Jokowi dan Pak Prabowo dirangkul dengan bendera merah putih, bagaimana pendapat Anda terhadap kejadian tersebut?

Ya ini yang menurut saya dirindukan oleh masyarakat Indonesia, pemimpinnya rukun, damai dan ini sejatinya Pak Jokowi dan Pak Prabowo adalah tokoh seperti itu. Mereka bersahabat dan tentunya proses demokrasi kita mengharuskan ada kontestasi.  Ini menunjukkan keakraban kita, ini Indonesia dan politik Indonesia seperti ini.

Elit begitu damai dicitrakan dari momen itu tetapi  banyak juga gerakan di akar rumput seperti gerakan #2019GantiPresiden, persekusi atau apapun, bagaimana  Anda menilai kesenjangan antara elite dan akar rumput ini?

Saya ingin menghimbau juga bahwa kita harus dewasa dalam berpolitik, kita harus menunjukkan kematangan dan perbedaan pilihan itu wajar. Di satu keluarga saja mungkin pilihannya nggak sama dan harus kita  sikapi. Jangan sampai setiap 5 tahun kita menambah musuh. Kita justru harus meningkatkan silaturahim kita dan  kita sikapi bahwa politik yang brand Indonesia ini adalah  demokrasi yang justru mempersatukan. Untuk memimpin kita harus memberikan contoh yang baik, ini contoh yang baik sekali dan yang di akar rumput juga harus teduh.

Tugas kita sama-sama dan saling mengingatkan agar pilpres ini jangan menjadi ajang saling bermusuhan dan sikut-menyikut atau menjatuhkan. Tapi justru saling mendukung, kita adu konsepsi ekonomi kita, misalnya bagaimana penciptaan lapangan kerja dan kita tunjukkan ke publik bahwa demokrasi di Indonesia itu lain dari yang lain.

Bagaimana Anda melihat demokrasi sekarang?

Proses demokrasi sekarang penuh dengan dinamisme, sangat cair. Saya ingin sebetulnya proses politik demokrasi kita ini, sejuk, teduh, penuh dengan silaturahmi, penuh dengan saling menguatkan, bukan menjatuhkan, memecah belah. Destruksi politik selama ini sebagai deferensiasi karena demokrasi Pancasila kita berbeda dengan demokrasi di negara lain.

Apa pesan Anda kepada pendukung Anda di level grassroot?

Harus disiplin, kita bicara positif. Kita tidak boleh berkomentar negatif karena komentar negatif akan memberi energi negatif. Pesan kita jelas, kita tidak ingin memecah belah. Masyarakat capek, lelah dengan politik yang saling sikut, memecah belah, masyarakat ingin suasana yang damai, sejuk.