Robot Pantau Situng KPU, Buktikan Data Valid Suara Rakyat yang Dicuri Dari Menit ke Menit

SIR.COM, Jakarta – Begitu banyaknya temuan kesalahan input pada sistem perhitungan suara (Situng) KPU, menggerakkan hati seorang pakar IT alumnus ITB Hairul Anas Suaidi untuk membongkar ketidaksesuaian antara suara rakyat yang tercatat pada C1 Plano di tingkat TPS dengan hasil perolehan suara yang katanya real count versi KPU yang ditayangkan di berbagai televisi swasta hingga website KPU sendiri.

Anas menilai temuan Badan Pemenangan nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang menemukan 73.715 salah perhitungan suara saat posisi suara masuk sekitar 440 ribu (50%) menggelitiknya untuk membongkar dugaan kecurangan yang dilakukan KPU melalui sistem Situng tersebut.

Keberhasilan Anas menciptakan robot pemantau Situng KPU dengan screen monitoring dimana robot bisa merekam dan menyimpan screeshoot bukti-bukti suara rakyat di halaman-halaman publikasi Situng KPU dari menit ke menit. Menariknya robot ini memotret mulai dari halaman nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa hingga TPS dari Aceh hingga Papua yang telah membukakan mata seluruh rakyat.

Sebagai masyarakat yang peduli akan suara rakyat, tentu temuannya bisa menguatkan BPN dan masyarakat luas yang menduga telah terjadi kecurangan secara terstruktur, sistematis dan massif itu.

“Inilah robot yang saya ciptakan. Ada screen monitoring, semau data ada, dari menit ke menit, jadi kalau ada yang minta data di menit ke berapa kami bisa bantu kasih datanya,” jelasnya

Dengan Robot Pantau Situng ciptaannya itu, Anas meyakinkan masyarakat agar tidak khawatir jika terdapat perbadaan suara antara suara Situng dengan C1 Plano di TPS. Ia menyebut robot buatanya itu disebutnya dengan Robot Tidak Ikhlas, maksudnya tidak ikhlas jika suara rakyat dicuri.

“Jika yang pertama tadi (Situng KPU) itu robot ikhlas, kalau ini namanya Robot tidak ikhlas. Saya tidak ikhlas, Pak Prabowo dan Sandi dicuri suaranya. Siapa yang ikhlas suaranya dicuri?,” tanyanya balik.

Anas mungkin menjadi salah satu orang yang paling dicari karena penemuannya tersebut. Maklum ia mampu menciptakan robot yang ditakuti para pelaku dugaan kecurangan di Situng KPU.

“Jika mereka tidak takut dengan mesin situng, bahkan malaikat, mungkin robot pantau situng ini mereka takuti karena semau data ada semua dari tingkat nasional hingga TPS,” ujar Anas yang menyebut robotnya ada di Planet Mars itu.

Yang lebih mengejutkan Anas menunjukkan penemuan yang sangat penting, seorang professor asal Malaysia yang memiliki kehalian di bidang investigasi forensik gambar C1. Anas pun menunjukkan pada Independent Observer, bahwa hasil pindai C1 kelihatan tidak asli.

Bagaimana bisa antara hasil scan C1 dan C1 berikutnya tidak pararel. Seharusnya ketika proses scaning C1 antara gambar (latar belakang) dan isinya (suara dari C1) keduanya bergerak. Namun pada video singkat yang ditunjukkan bahwa antara latar belakang (warna hitam) tidak bergerak sedangkan isinya menari-nari (bergerak).

“Antara background dan konten tidak paralel, background/watermark diam, tapi table bergoyang. Artinya ini adalah terindikasi manipulatif sehingga keaslian Scan C1 Situng perlu diinvestigasi,” jelasnya.

Berikutnya ia menunjukkan filter negatif, hasilnya sangat mengejutkan. Semua yang di scan tidak bisa dibaca. Anas menjelaskan jika ini berarti bukan hasil proses scanning melainkan editing Microsoft Word atau Photoshop. Dari berbagai temuan tersebut tak salah kiranya Anas menyebut jika kubu petahana bukan hanya memainkan money politic dan berbagai transkasi yang melanggar demi mempertahankan kekuasaan.

“Bahkan sampai urusan matematika pun mereka berani langgar, sampai urusan dokumentasi seperti ini pun mereka berani langar,” pungkasnya.