Prabowo Subianto : Berpikir dan Bertindak yang Baik untuk Rakyat dan Negara

SIR.COM, Jakarta – Dibesarkan di lingkungan keluarga pejuang dan Nasionalis, membuat Prabowo Subianto tidak abai pada keadaan sekililingnya.  Kepekaan menjadi modal sebagai seorang pemimpin. Apa saja nilai-nilai utamanya dalam berpolitik?

Dengan latar belakang keluarga anda, anda terlihat sangat berempati dengan rakyat miskin?

Saya kira, empati masalah latar belakang. Kaya miskin itu relatif. Pedagang hari ini bisa untung, besoknya bangkrut. Dalam agama apa pun, kita diajarkan bahwa untuk bisa membantu orang, kita harus kuat, kuat secara intelektual, kuat secara ekonomi. Kalau kita sendiri sulit, bagaimana kita bisa membantu orang lain. Soal kaya, yang penting saya kira kejujuran. Jangan kekayaan itu hasil dari korupsi. Kalau itu dari rezeki Tuhan, usaha sendiri, tidak masalah. Apalagi kalau kekayaan itu kita pakai untuk kepentingan bangsa dan negara.

Nilai-nilai Anda dalam berpolitik?

Saya idealis, saya ingin menjalankan sesuatu berdasarkan nilai-nilai yang terbaik. Saya merasa tugas seorang pimpinan partai politik adalah mencari pemimpin yang terbaik untuk rakyat, siapa pun dia, dengan harapan, begitu dipilih dia akan bekerja sebaik-baiknya untuk rakyat. Nilai itu saya pegang itu, tentunya kita berharap lebih baik dari kader kita sendiri, dan ternyata kita juga punya. Kita punya kader. Kadang kita harus koreksi diri, partai kita masih sangat muda. Banyak kader muda dan mampu terus terang saja menghadapi kendala dengan sistem demokrasi kita yang terlalu liberal, bahkan neoliberal, ujungnya banyak membutuhkan uang.

Pemilihan di Indonesia sangat mahal. Hitungan saya termahal di dunia. Untuk jadi kader politik individu paling tidak membutuhkan sampai berapa. Di Eropa untuk jadi anggota DPR sangat murah. Rata-rata individu cukup mencari uang paling Rp 10 sampai Rp 15 juta, paling tinggi seribu pounds. Akibatnya sistem mereka menghasilkan pemimpin yang terbaik. Lulusan universitas terbaik. Anak-anak muda yang cerdas. Mereka bisa datang ke rakyat dan memperlihatkan ini keahlian saya, prestasi saya, bukan saya anak siapa. Saya bukan punya uang ratusan miliar. Akhirnya muncul orang-orang hebat. Saya tidak tahu sistem di Indonesia, sekali lagi ini kerjanya elite Indonesia. Kalau mau maju, saya ketua partai, banyak anak muda mau maju, saya sedih, saya tanya, “Kamu punya uang nggak? Untuk bayar saksi itu berapa? Kita harus berpikir untuk memperbaiki sistem ini.

Bapak selalu menjadi pribadi yang positif, berpikir yang baik tentang orang lain. Kalau dikecewakan, apa yang dilakukan?

Hidup itu tidak selamanya harus indah. Kadang hari cerah, kadang mendung, tetapi tetap hidup. Kita harus terima yang baik dan yang tidak baik, tetapi kita harus selalu berjuang ke arah yang baik. Saya punya atasan yang mengajarkan selalu berpikir, bertindak, dan berbuat yang baik untuk rakyat dan negara. Berpikir, bertindak, dan berbuat yang terbaik untuk masyarakat dan negara.

Kadang kita sakit hati, dongkol, kecewa, tetapi jangan kita bawa kekecewaan itu terus. Kecewa, belajar, ambil hikmahnya, belajar yang terbaik.

Kau kecewa, lalu belajar, berbuatlah. Apa reaksinya? Kau sedih, kecewa, sudah. Jawaban saya, do your best, berbuat yang baik. Jangan menyerah, jangan henti-hentinya berbuat kebaikan.

Apa yang membuat anda merasa masih harus terus berjuang?

Selama Indonesia masih seperti ini, saya tidak boleh istirahat. Saya tidak rela negara yang begini kaya, rakyatnya masih banyak yang miskin, saya tidak rela kita utang terus dari luar negeri, saya tidak rela kita tidak dihormati sebagai bagsa yang besar. Saya bagaimana kehendak rakyat, itulah yang akan saya ikuti.

Bagaimana pendapat Anda tentang isu SARA yang belakangan semakin sensitif?

Dari sebelum merdeka pun kita tahu, sampai dengan ada istilah SARA, menyangkut suku, ras, agama, antargolongan. Ini masalah rawan, dalam bahasa Inggris SARA ini disebut fault line, garis-garis yang bisa menimbulkan perpecahan. Karena itu setiap pemimpin, setiap golongan elite, golongan terdidik di manapun, selama saya menjadi siswa atau perwira muda kita diajarkan oleh senior-senior kita, bahwa Indonesia punya banyak kelebihan, tetapi ada kerawanan, masalah SARA, jadi kalau kau jadi pemimpin harus hati-hati, jangan menyakiti suku lain, agama lain, bahkan kita diajarkan senior kita harus selalu rukun, kita harus memelihara kerukunan, persahabatan, kekeluargaan, menjaga kekerabatan.

Hal-hal ini tidak harus kita anggap enteng. Perdamaian itu tidak gampang, harus dipelihara, saya selalu berinisiatif menyakinkan semua pihak bahwa kita harus mencapai tujuan-tujuan kita dengan cara yang baik, cara yang sejuk, dan menghindari segala kemungkinan kekerasan, itu yang saya ajarkan di Gerindra juga. Saya selalu cerita, saya mantan prajurit. Saya dididik untuk perang, saya selalu di lapangan tempur. Saya bukan perwira di belakang meja karena itu saya mengerti, paham, saya percaya bahwa perang dan segala bentuk kekerasan harus kita hindari karena kalau terjadi kekerasan, kita tidak tahu akhirnya bagaimana.

Sejarah Indonesia mengajarkan, bahwa dokumen-dokumen yang sekarang keluar, luar biasa kekuatan-kekuatan asing, selalu ingin Indonesia rusuh, kacau. Saya coba memberitahu teman-teman dari golongan manapun, kyai, ustad, kelompok pemimpin, ‘hati-hati, jangan kita kira kita punya agenda bisa tidak diintervensi oleh kekuatan lain.’ Ini yang jadi masalah karena Indonesia diincar, banyak yang iri dengan kita. Kita jangan ribut sendiri.

Bagaimana pendapat Anda mengenai isu makar yang berhembus belakangan ini?

Tentunya saya sebagai orang di luar pemerintah, saya tidak punya kemampuan mendeteksi, tetapi bila ada bukti-bukti dan upaya ke arah situ, kita harus waspada. Hanya saya kira setiap usaha untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai konstitusi itu mengandung risiko yang sangat besar. Merebut kekuasaan bisa-bisa saja, tetapi sesudah itu bagaimana, mau memimpin dan memerintah tanpa legitimasi? Kalau kita sudah biasa menurunkan pemerintah yang [terpilih secara] elektoral, nanti jadi kebiasaan, ujung-ujungnya tidak ada budaya politik yang baik.

Dalam suatu kurun waktu negara bangsa, kita bukan sesuatu yang lama, ada peradaban yang ribuan tahun. Kita baru 73 tahun. Di sinilah saya coba menjalankan peran saya, sebagai pimpinan partai, saya menjalankan semua dengan parameter konstitusi, dan selalu mengajak kita waspada, jangan egois. Lihat kepentingan yang besar. Bagaimanapun, kita harus memandang semua pihak di politik sebagai keluarga, sahabat. Ini yang berat karena di Indonesia, persaingan suka [berujung] dendam.

Di beberapa negara terjadi kudeta terhadap pemerintah. Bagaimana pandangan Bapak tentang hal itu?

Kalau kita lihat sejarah bangsa-bangsa, kudeta itu bisa kudeta militer, keuangan, konstitusional, macam-macam. Kudeta artinya pengambilalihan kekuasaan di luar norma, kebiasaan. Jadi kita lihat, suatu keadaan di mana pemerintahnya membuat kesalahan atau blunder-blunder sehingga kadang-kadang ada pihak yang merasa bahwa kudeta bisa jadi jalan penyelamatan, tetapi jangan lupa bahwa kudeta biasanya akan menimbulkan kudeta-kudeta lain. Kalau negara sudah punya budaya kudeta, risikonya besar. Khusus di Indonesia, kudeta militer tidak pernah berhasil.

Ujung kekuasaan adalah legitimasi. Pemimpin harus punya legitimasi dan harus diterima rakyat. Yang jadi masalah, elite politik terlalu seenaknya, asyik dengan intrik-intrik sendiri. [Sebarkan] budaya bohong, budaya tipu. Akan tetapi, rakyat sekarang hampir semuanya punya handphone, punya twitter, instagram, jangan anggap rakyat bodoh. Elite begitu sudah dapat kekuasaan, korupsi-korupsi, kekayaan dikasih ke luar negeri membuat rakyat dongkol sehingga kalau ada upaya memanasi paling gampang karena rakyat sudah tertekan.

Bagaimana menurut Anda cara menjaga demokrasi kita?

Persis seperti yang saya wanti-wanti, demokrasi harus kita jaga, harus murni, demokrasi harus dijalankan dengan baik, tidak boleh rekayasa. Celakanya elite politik Indonesia ini sudah biasa dengan rekayasa. Demokrasi kita sedang dirusak. Sogok ini sogok itu. Beli suara. Ketua partai disogok. Anda tahulah. Saya katakan, budaya merusak demokrasi membuat rakyat akhirnya turun ke jalan. Kalau rakyat percaya dengan DPR-nya, fraksinya, rakyat juga tidak mau capek-capek kepanasan. Rakyat turun ke jalan karena merasa suaranya tidak didengar. Masalahnya cuma itu. Karena itu marilah kita bangun demokrasi dengan baik. Saya kalah, saya tidak sakit hati. Kalau mau jadi menteri dan memperkaya diri, tanggung jawab masing-masing berhadapan dengan rakyat dan sejarah. Kenapa orang harus dendam?

Kalau demokrasi kita jaga dengan baik, kalau semua saluran baik, rakyat tidak akan turun ke jalan, tetapi pemerintah juga jangan ada tekanan-tekanan. Pemerintah tidak bisa ditekan oleh massa. Itu tidak sehat. Mari lakukan dialog. Kalau ada ketegangan, ada ketidakpercayaan, ada katakanlah frustrasi, seluruh elite harus membuka dialog, dengarkan, dengan itu kita bisa mencari jalan ke luar yang baik.

Bagaimana cara Anda membantu pemerintah?

Membantu tidak harus di dalam kabinet. Demi kepentingan bangsa dan negara. Kita juga bantu pemerintah dalam banyak hal, pemungutan-pemungutan suara di DPR yang kritis, di tahun-tahun pertama. Kita tidak harus mutlak di dalam pemerintah. Kalau semua di dalam, yang check and balance siapa? Demokrasi butuh pemerintah dan pengawas. Demokrasi Indonesia juga khas, kalau situasi genting, menjadi government of national unity. Pemerintahan Bung Karno, kita sebagai anak bangsa, pernah satu suara untuk jaga keutuhan. Dalam keadan genting, demi kepentingan nasional, kita bersatu kalau memang dibutuhkan. Rakyat perlu suara untuk menyampaikan hal-hal yang tidak enak.

Kecenderungan di Indonesia, semua suka ABS, kasihan sama pemimpin sehingga simpan berita tidak bagus. Budaya di Indonesia, ABS sifat anak buah yang hanya menyampaikan berita bagus. “Aman, Pak. Bagus, Pak.” Pemimpin harus terima informasi yang tidak bagus. Ini memang kebiasaan Melayu, padahal berita tidak bagus, apa adanya, juga perlu disampaikan supaya dia aware. Di militer apa lagi. Justru mereka yang pangkat rendah, kopral-kopral itu yang lebih jujur. Tidak ada urusan dengan Sesko, Lembanas. Lama-lama kita tahu siapa yang jujur. Dari pengalaman saya, yang banyak jujur justru yang pangkat rendah. Mereka apa adanya. Ini pengalaman saya.

Setiap orang pasti pernah dikhianati, apa pelajaran yang Bapak ambil dari peristiwa tersebut?

Kita tidak mungkin menghindari pengkhianatan karena pengkhianat itu salah satu sifat manusia. Yang paling penting, saya tidak mau berkhianat dan curang. Dan saya sering diledek, “Ah Prabowo gampang dibohongi”, yang penting saya tidak pernah berkhianat. Hidup seperti itu, saya sudah pilih, saya dibesarkan seperti itu, saya menjalankan hidup saya memakai nilai-nilai pendekar, membela kebenaran. Bagaimana bisa memakai nilai-nilai pendekar kalau curang, khianat. Saya memimpin dengan contoh, kamu jangan mencuri, berkhianat, kok kita mencuri? Salah satu saya belajar kunci kepemimpinan adalah kita selalu memimpin dengan contoh.

Bagaimana agar tidak dikhianati lagi?

Kita lebih waspada, sudah tahu. Dia pasti terusik oleh dirinya sendiri. Jadi tentunya kita dengan berkali-kali dikhianati jadi lebih waspada dan kita tidak terlalu berharaplah dengan elit -elit yang khianat. Kalau kita sungguh-sungguh mau mengabdi kepada bangsa dan negara, ya kita harus berkorban. Pengabdian. Kita korban waktu, tenaga, harta, nyawa, perasaan. Perasaan pribadi harus siap disakiti, difitnah, dihina.

Bapak sering difitnah, apakah itu bagian dari proses hidup?

Saya kira ini hidup, kalau kita lihat sejarah, budaya, kita diajarkan ribuan tahun, hidup adalah selalu pertentangan antara yang membela kebenaran dan yang membela ketidakbenaran. Kalau dalam pewayangan Pandawa vs Kurawa. Good versus evil. Dari muda mereka lihat saya suka membela negara. Akhirnya lawan-lawan saya yang lebih kuat, lebih tega, selalu mengumandangkan itu. Saya sudah buktikan bahwa saya sangat percaya dengan demokrasi. Prabowo disebut ini itu lah. Bayangkan, kalau kita mimpin prajurit tempur, prajurit tempur punya senjata semua. Kalau kita memimpin dengan korup, di lapangan, mana bisa dibedakan peluru dari musuh atau anak buah? Baca sejarah, tidak ada pemimpin pertempuran yang berhasil kalau tidak dicintai oleh anak buahnya. Kita memimpin mereka menghadapi maut. Tidak ada manusia mau mati untuk uang. Dia mau mati untuk cita-cita yang lebih tinggi.

Fitnah [sudah menjadi] bagian dari hidup. Bagian dari risiko kita. Koruptor tidak suka terhadap saya, dan calon pemimpin muda yang tidak mau ikut-ikutan dengan mereka, kami mau setia dengan cita-cita proklamasi. Kami sering dihabisi, tetapi itu risiko.

Anda disebut sebagai tokoh paling sentral di kubu oposisi. Bagaimana menurut Anda?

Saya tidak mau secara sederhana seperti itu. Setiap keputusan saya, saya selalu berunding dengan tokoh-tokoh lain, dengan sahabat-sahabat saya di PKS, saya minta persetujuan. Dengan buruh, dengan kepala desa. Kita tidak melihatnya sesimple seperti itu. Partai lain juga berpengaruh. PKB, PAN, semua memberi dimensi pergulatan. Marilah kita menjaga harapan rakyat kepada kita. Nyatanya partai lain juga berpengaruh. Semua memberi dimensi pergulatan. Itu bagus, bagian dari demokrasi, yang kita harapkan. Kita menjaga harapan rakyat kepada kita.

Apa harapan Bapak bagi para elite bangsa kita?

Mereka utamakan kepentingan rakyat dan negara. Di ujungnya mereka akan mengerti bahwa semua unsur pimpinan harus memberi contoh. Saya pernah diberi contoh bahwa kepemimpinan rakyat seperti pendulum, goyang sedikit di atas, getarannya sangat besar di atas bawah. Kita harus menebarkan optimisme, bukan ketakutan kepada rakyat.