Pilgub Jabar Belum Selesai, Belum Ada Pemenangnya

SWARAINDONESIARAYA.COM, Bandung – Pemungutan suara Pilgub Jawa Barat 2018 telah dilaksanakan pada hari Rabu 27 Juni 2018. Puluhan juta rakyat Jawa Barat mengikuti proses demokrasi ini dengan penuh harap, menanti terpilihnya gubernur baru. Akan tetapi, ada beberapa hal yang menjadi catatan dalam pergelaran ini, sehingga sampai saat ini kita masih belum dapat mengetahui siapa pemenang sebenarnya dari Pilgub Jawa Barat.

INKOMPETENSI LEMBAGA SURVEI
Sepanjang perjalanan pilgub Jawa Barat, lembaga-lembaga survei selalu memaparkan hasil survei mereka secara berkala. Dengan kemampuan mereka mempengaruhi opini publik, harapan besar pun ditumpukkan ke pundak mereka, agar para lembaga survei ini dapat memberikan informasi riil mengenai posisi terkini setiap pasangan calon.

Berikut adalah beberapa hasil survei dari lembaga-lembaga survei ternama, seperti dikutip dari situs berita merdeka.com :
Indo Barometer
Survei yang dilakukan pada 7-13 Juni 2018, menempatkan pasangan Ridwan-Uu di posisi teratas dengan elektabilitas 36,9 persen.

Pesaing terberatnya yakni Deddy-Dedi dengan perolehan 30,1 persen. Diikuti jauh di bawah Sudrajat-Ahmad Syaikhu 6,1 persen dan TB Hasanddin-Anton Charliyan 5 persen. Swing voters 20,8 persen.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Survei dilakukan pada 22 Mei1 Juni 2018. Hasilnya, Ridwan-Uu memperoleh elektabilitas sebesar 43,1 persen. Mengutit di belakangnya yakni Deddy-Dedi 34,1 persen.

Sementara dua pasangan lainnya jauh di bawah. Yakni, Sudrajat-Syaikhu 7,9 persen dan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan 6,5 persen.

LSI Denny JA
Survei dilakukan pada 7-14 Juni 2018. Dalam hasil survei ini, Ridwan-Uu tetap memimpin dengan perolehan elektabilitas 38,0 persen. Disusul Deddy-Dedi dengan 36,6 persen.

Lalu Sudrajat-Ahmad Syaikhu 8,2 persen dan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan sebesar 7,7 persen.

Poltracking Indonesia
Survei dilakukan pada 18-22 Juni 2018. Lagi-lagi pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum memimpin dengan elektabilitas sebesar 42 persen. Menempel ketat di bawahnya pasangan Deddy-Dedi dengan 35,8 persen.
Sementara Sudrajat-Ahmad Syaikhu 10,7 persen, dan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan 5,5 persen.

Instrat
Melakukan survei pada 18 Juni hingga 21 Juni 2018. Hasilnya berbeda dengan empat survei lainnya. Dari hasil Instrat, Deddy-Dedi sukses ungguli Ridwan dan Uu.
Deddy-Dedi memperoleh elektabilitas 38,17 persen. Disusul pesaing terdekatnya yakni Ridwan-Uu dengan 33,92 persen.

Di posisi ketiga ditempati oleh Tb Hasanuddin-Anton Charliyan dengan 8,67 persen. Sementara posisi buncit Sudrajat-Ahmad Syaikhu dengan 8,5 persen.
Berdasarkan rilis lembaga-lembaga survei tersebut, publik pun dapat mengambil kesimpulan. Yaitu bahwa pilgub Jabar seolah menjadi ajang persaingan hanya dua pasang calon saja, RINDU dan 2D. Keduanya bergantian menempati posisi teratas hasil survei, dengan perolehan berkisar antara 30-40an persen. Sedangkan dua pasangan lain, ASYIK dan HASANAH, ditempatkan di posisi buncit dengan persentase di bawah 10%, bahkan hanya single digit.

Kejutan Hasil Quick Count
Pada hari-H pencoblosan, lembaga-lembaga survei pun merilis hasil hitung cepat (quick count). Metode hitung cepat adalah salah satu cara untuk mengetahui siapa pemenang pemilu dalam waktu singkat, beberapa jam saja setelah pencoblosan. Dengan metodologi yang memenuhi kaidah-kaidah keilmuan statistika, quick count mampu memprediksi hasil pemilu dengan tingkat kepercayaan (confidence level) dan ketelitian tertentu (margin of error), sebelum rekapitulasi manual (real count) resmi dari KPU yang memerlukan waktu sekitar 2 minggu selesai.

Berikut adalah beberapa hasil quick count oleh beberapa lembaga survei, seperti dirangkum oleh situs berita kompas.com :
1. Quick count Litbang Kompas: Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dinyatakan menang dalam hitung cepat Litbang Kompas.

Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,54 persen Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan: 12,2 persen Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 29,53 persen Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 25,72 persen.

Dalam hitung cepat ini Litbang Kompas mengambil 400 sampel TPS dengan metode pemilih sampel stratified sistematic sampling yang tersebar di seluruh daerah. Adapun simpangan kesalahan (margin of error) 1 persen. Artinya, hasil survei bisa bertambah atau berkurang sekitar 1 persen. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 99 persen.

2. Quick count SMRC: Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dinyatakan menang dalam hitung cepat SMRC.

Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,26 persen Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan: 12,77 persen Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 29,58 persen Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 25,38 persen.

Populasi dalam quick count ini adalah seluruh pemilih sah yang datang ke 300 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Jawa Tengah. Sampel dipilih menggunakan metode stratified cluster random sampling dengan margin of error plus minus 1 persen dan tingkat kepercayaan 99 persen.

3. Quick count Populi Center: Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dinyatakan menang dalam hitung cepat Populi Center.
Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 33,23 persen Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan: 12,45 persen Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 28,73 persen Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 25,59 persen.

Hitung cepat Populi Center menggunakan sampel dari 600 tempat pemungutan suara (TPS) yang ditarik dari populasi seluruh TPS. Metode yang digunakan yakni simple random sampling dengan margin of error plus minus 1 persen.

4. Quick count LSI: Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dinyatakan menang dalam hitung cepat LSI.

Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,98 persen Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan: 12,98 persen Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 27,98 persen Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 26,07 persen.
LSI Denny JA mencatat voter turnout (VTO) mencapai 69,14 persen. Adapun margin of error 1 persen.

Dari rilis hasil quick count dari beberapa lembaga survei tersebut, kita mendapatkan beberapa catatan. Pertama, menurut pemberitaan di situs kompas.com tersebut, margin of error dari quick count yang dilakukan lembaga-lembaga survei tersebut adalah pada angka 1%. Hal ini merupakan suatu kejanggalan.

Dengan populasi TPS di Jawa Barat yang berjumlah 74.942 TPS, jika kita ingin mendapatkan hasil dengan 99% confidence level dan 1% margin of error, maka dibutuhkan 13.618 TPS sebagai sampelnya. Sedangkan menurut pemberitaan di atas, jumlah TPS yang dijadikan sampel bagi lembaga-lembaga survei tersebut hanya berkisar antara 300-600 TPS. Untuk 99% confidence level, jumlah sampel 300 TPS artinya margin of error akan berada pada angka 7%, dan sampel 600 TPS artinya margin of error nya 5%.

Artinya, ada dua kemungkinan: ada kekeliruan dalam pemberitaan (honest mistake), atau memang publik sengaja diarahkan dengan info yang menyesatkan (misleading).

Kedua, hasil quick count yang dirilis tersebut tidak mencerminkan hasil-hasil survei yang dirilis sebelumnya. Gelaran yang diprediksi hanya kontes antara RINDU dan 2D, ternyata tidak terjadi. ASYIK melejit, berbeda posisi sangat tipis (neck to neck) dengan RINDU. Sementara pasangan 2D dan HASANAH terpaut cukup jauh. Sehingga kemudian muncul pertanyaan: dapatkah kita mempercayai lembaga-lembaga survei yang mempunyai nama tenar ini?

Ketiga, posisi RINDU dan ASYIK terpaut sangat tipis, hanya di kisaran 1-3%, di bawah margin of error 7% atau 5%. Artinya, secara keilmuan belum dapat diketahui siapa pemenangnya antara RINDU ataupun ASYIK.

Dari angka-angka dan catatan-catatan tersebut di atas, tim pemenangan Partai GERINDRA tidak dapat begitu saja menerima hasil quick count yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga survei yang sebelumnya merilis hasil survei yang begitu berbeda dengan hasil quick count.

SURVEI INTERNAL PARTAI GERINDRA
Selama proses perhelatan pilgub ini, kami mempunyai tim khusus yang bertugas untuk mengetahui secara riil posisi para kandidat di lapangan. Tim ini juga melaksanakan survei secara berkala dan quick count pada hari-H pemilihan.
Dari survei terakhir dari tim internal yang dilaksanakan pada pertengahan Juni, didapatkan hasil sebagai berikut: RINDU 24,1% HASANAH 9,7% ASYIK 30,5% 2D 26,6% dan 10,1% belum menentukan pilihannya. Survei tim internal ini dilakukan pada 1200 responden, dengan margin of error 4% pada confidence level 99%.
Sedangkan untuk quick count, kami membentuk 2 tim yang terpisah dan bekerja masing-masing, dengan hasil sebagai berikut:
Tim 1: RINDU 30,44%, HASANAH 12,88%, ASYIK 30,69%, 2D 25,99%. Jumlah sampel sebanyak 1200 TPS dan margin of error 4% pada confidence level 99%
Tim 2: RINDU 30,6%, HASANAH 13,66%, ASYIK 31,72%, 2D 24.02%. Jumlah sampel sebanyak 1200 TPS dan margin of error 5% pada confidence level 99%.

Dari angka-angka tim internal kami, kami dapat menyimpulkan dua hal. Pertama, ternyata hasil survei terakhir tidak jauh berbeda dengan hasil quick count. Perbedaannya tipis, masih di bawah margin of error. Sehingga kami memutuskan bahwa hasil yang diperoleh oleh tim kami lebih terpercaya dibanding lembaga-lembaga survei yang lain.
Kedua, hasil quick count dari 2 tim kami menyatakan bahwa pasangan ASYIK memperoleh suara lebih banyak daripada pasangan RINDU. Menurut tim 1, ASYIK unggul dengan selisih 0,25%, dan menurut tim 2 ASYIK unggul 1,12%. Jika hasil quick count internal kami ini bisa dijadikan patokan, maka pemenangnya adalah pasangan ASYIK. Hasil ini akan menjadi jelas ketika rekapitulasi suara di KPU Jawa Barat telah selesai.

Kepada seluruh saksi, relawan, para kader dan pengurus partai-partai pengusung, dan pendukung ASYIK, agar menjaga fokus dan semangat. Jangan lengah, jangan patah semangat, terus kawal keseluruhan proses rekapitulasi suara. Pertarungan sesungguhnya baru terjadi setelah pemungutan suara, yaitu kita harus mampu mengawal rekapitulasi suara.

Penulis : Rizaldy Danar Priambodo,
Tim Pemenangan Internal GERINDRA untuk Pilgub Jabar