Petani Sawit Berharap Pemerintah Membantu Memperpendek Rantai Penjualan 

SIR.COM, Dumai – Seperti dikeluhkan Tolen Ketaren, petani sawit swadaya di Bukit Timah di Dumai, Provinsi Riau, saat dihubungi SwaraIndonesia Raya. Bersama beberapa rekannya, Tolen mengelola perkebunan sawit mandiri seluas 80 hektare.

Tanaman sawit yang sudah berusia empat tahun bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Dari lahan seluas 1 hektare, bisa didapat tandan buah segar seberat 1 ton. Bila perawatan baik, artinya pohon rutin dipupuk, hasilnya bisa 2 ton untuk lahan 1 hektare per dua minggu panen. “Sekarang ini perawatan sudah jarang, pemupukan apa lagi. Hasil sebanyak 1 ton per 1 hektare per bulan sudah hebat,” kata Tolen.

Petani seperti enggan merawat karena biaya pupuk mahal, sedangkan harga tandan buah segar terus turun. “Kebun tidak terawat, tahun depan produksi pasti anjlok. Awal tahun sempat Rp 1.200 per kg, menjelang Lebaran lalu harga tandan buah segar turun terus sampai Rp 670. Kalau harga jual sudah di bawah biaya operasional, Rp 700-800 per kg, kami tidak bisa merawat kebun karena uang habis untuk makan sehari-hari,” ujar pria yang mengaku punya pekerjaan sampingan sebagai juru parkir ini.

Dirinya mengakui, ada dua penyebab harga tandan buah segar jauh di bawah harga idealnya, yakni Rp 1.500 per kg. Stok berlebih sehingga berlaku hukum supply and demand, dan kampanye hitam yang terus dilancarkan lembaga swadaya masyarakat. “Selama ini sawit selalu yang disalahkan. Sawit dibilang merusak lingkungan. Ada asap sedikit, dibilang sawit yang jadi penyebab. Padahal sawit tidak punya salah, justru kami bergantung sama sawit. Ibaratnya tanah di sini sudah capek sehingga ubi atau karet tidak bisa tumbuh,” katanya.

Tolen berharap turunnya harga tandan buah segar tidak berlangsung lama karena akan merepotkan semua petani. Sawit sudah jadi andalan hidup petani di Dumai, dan mereka pernah merasakan kejayaan dari tanaman yang harus di-replanting setelah 25 tahun itu. Karena itu, dirinya berharap pemerintah segera turun tangan.

“Memang sudah ada kebijakan menghilangkan biaya Levi (pungutan untuk ekspor,-Red) sebesar US$ 50 per ton, tetapi kami berharap pemerintah segera memberi kemudahan untuk membeli langsung dari petani. Tandan buah segar yang sudah dipanen harus segera dijual hari itu juga. Disimpan dua hari saja, kualitasnya sudah pasti jelek, langsung hitam, bukan lagi berwarna merah,” ujarnya. “Buah yang belum matang, bila dipanen, rendemen minyaknya belum dapat, meskipun bila ditimbang sudah berat, tetapi masih ada petani yang memanen buah yang belum matang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,”  sambungnya.

Dikatakan, selama ini petani menjual hasil panen ke pengepul. Tolen berharap pemerintah lewat Dinas Perkebunan memperpendek rantai penjualan dari petani langsung ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). “Selisih Rp 200-300 per kg sangat berarti buat kami. Kami tidak ada akses langsung ke PKS, padahal pengepul suka-suka hati menentukan harga tandan buah segar. Mereka main di harga dan timbangan. Kami lumayan menderita. Kena hujan sedikit, ada potongan 10 persen. Bayangkan, dari 50 ton, potongannya 500 kg, sangat berarti buat kami,” katanya lagi. (est)