Perpisahan Liliyana di Istora

SIR.COOM, Jakarta – Tekad Lilyana Natsir pensiun dari badminton sudah bulat. Indonesia Masters 2019 di Istora Gelora Bung Karno Jakarta akan menjadi ajang terakhirnya.

Sebuah acara farewell party pun disiapkan untuknya, Minggu, 27 January. “Jadi tegang juga harus menyiapkan pidato perpisahan. Saya pasti akan sedih, bagaimana pun hidup saya ada di badminton,” kata Butet, panggilan karib Liliyana. Dia sudah bergelut dengan badminton sejak usia sembilan tahun dan masuk ke pemusatan latihan nasional di Cipayung, Jakarta sejak 2002.

Berarti sudah 24 tahun Butet bergelut dengan badminton dan 17 tahun menjadi pemain badminton nasional Indonesia. “Sudah lama juga ya,” ujarnya tertawa dalam jumpa pers di Sultan Hotel, Senayan, Jakarta, Senin.

Di Indonesia Masters umtuk terakhir kalinya dia akan berpasangan dengan Tontowi Ahmad, rekan seperjuangan saat merebut medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, sebelumnya bersama Nova Widhianto, Butet merebut medali perak Olimpiade Beijing 2008. “Satu-satunya gelar juara penting yang belum bisa saya rebut adalah emas Asian Games,” katanya.

Butet dan Owi hanya merebut medali perak Asian Games Incheon 2014. “Saat itu saya bertekad merebut medali emas Asian Games 2018 di Jakarta, namun ternyata gagal, hanya memperoleh medali perunggu. Ya sudahlah,” katanya.

Kenangan terindah bersama Owi pastilah ketika merebut satu-satunya medali emas bagi kontingen Indonesia di Olimpiade Rio 2016. Apalagi empat tahun sebelumnya pasangan ini gagal merebut medali dalam Olimpiade London 2012.

Butet akan bermain tanpa beban di Indonesia Masters. “Saya akan menikmati setiap pertandingan. Inginnya sih jadi juara, tetapi apapun hasilnya saya akan berikan yang terbaik di Istora,” ujarnya. Memang tak ada waktu persiapan lama bersama Tontowi. “Tapi kami sudah saling kenal dan mengerti,” katanya.

Seusai Indonesia Masters, Butet ingin menikmati hidup di luar badminton. “Saya mau bangun siang dan makan sepuasnya tanpa pantangan seperti waktu bermain,” katanya sambil tersenyum. Dia pun ingin lebih fokus pada bisnis yang sudah mulai dirintis. “Saya ada bisnis pijat kesehatan, property dan mungkin nanti mau buka money changer,” katanya.

Menikmati masa pensiun sebagai pemain nanti, Butet ingin fokus dan belajar untuk lebih memahami dunia bisnis.

Tak ingin melatih? “Belum tahu, tetapi menjadi pelatih tidak mudah. Saat jadi pemain, tanggung jawab kita lebih kepada pribadi. Jadi pelatih lebih berat karena bertanggung jawab pada semua anak asuhannya. Pemain yang baik belum tentu bisa menjadi pelatih yang baik,” ujarnya.

Butet tak menutup kemungkinan akan rindu pada badminton. “Rindu pasti akan muncul suatu ketika. Saya akan sering-sering main ke pelatnas dan sharing dengan pemain-pemain muda,” tuturnya.

“Butet pasti tidak bisa total meninggalkan bulutangkis. Badminton Indonesia pun masih membutuhkan dia, paling tidak untuk membagi pengalaman serta motivasi buat para pemain muda,” kata Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susy Susanti.

Terima kasih Butet atas segala prestasi yang telah kau beri buat negeri, semoga sukses di lading kehidupan yang baru, di luar lapangan bulutangkis. (Erpe)