Lebih dari 600 Petugas Pemilu Meninggal, Pesta Demokrasi atau Bencana Pembantaian?

SIR.COM, Jakarta – Jumlah korban meninggal dari Pemilu serempak 2019 yang telah mencapai angka 603 orang meninggal dan 3805 orang sakit mengusik hati dokter-dokter dari berbagai bidang keahlian buka suara. Jumlah tersebut terbanyak adalah anggota KPPS, ditambah 92 orang Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan 22 orang petugas kepolisian. Dari sisi usia, korban meninggal mulai dari usia 19 hingga 70 tahun.

Dokter spesialis syaraf, Ani Hasibuan adalah salah satu dokter yang berani mengungkap jika kelelahan bukanlah penyebab utama banyak orang meninggal secara mendadak dalam waktu singkat. Ani meragukan bahwa kelelahan  menjadi penyebab kematian para petugas KPPS.

“Saya sebagai dokter dari awal itu sudah merasa lucu. Ini bencana pembantaian atau pemilu? Kok banyak amat yang meninggal? Pemilu kan happy-happy, mau dapat pemimpin barukah atau bagaimanya? Nyatanya meninggal,” kata Ani Hasibuan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa kondisi lelah tidak menyebabkan kematian, melainkan paling parah adalah pingsan. Menurutnya, kematian bisa saja terjadi jika korban sebelumnya telah mengidap penyakit, misalnya jantung.

Kematian karena kelelahan, saya belum pernah ketemu, saya ini sudah 22 tahun jadi dokter. Belum pernah saya ketemu ada COD, cause of death, karena kelelahan. Kalau dia ada gangguan jantung di awal, okay, kemudian dia bekerja, fisiknya diforsir, kemudian sakit jantungnya terpicu, dia meninggal karena jantungnya dong, bukan karena kelelahannya,terangnya.

Ani juga mengaku telah mengunjungi korban tewas dengan keluhan serupa. Awalnya sehat-sehat saja, enggak kenapa-kenapa. Satu hari setelah pemilu, ada yang sakit kepala, mual-mual, muntah-muntah, dua hari kemudian meninggal, katanya kecapekan.

“Kemudian ada lagi satu, habis malamnya menempel-nempel sesuatu, paginya pulang, terus di rumah mengatakan sakit perut, masuk kamar mandi, setelah itu masuk kamar tidur, meninggal. Enggak sempat dibawa ke Rumah sakit,” lanjutnya.

Senada dengan Ani, rekan seprofesi Ani, bernama Dr Taufan di akun twitternya menyebutkan korban meninggal yang didahului muntah darah terlebih dulu tidak ada kaitannya dengan kelelahan. Ia menduga ada hal lain yang memicu meninggalnya 603 petugas pemilu yang terbesar sepanjang sejarah.

“Zat yang mengiritasi mukoas lambung seperti obat aspirin dan zat-zat lain yang bisa menyebabkan perdarahan lambung,” tulis pemilik akun@ DrTaufan1 itu.

Di tempat terpisah, Ketua Umum IDI, Dr. Daeng M Faqih mengatakan hal yang sama jika kelelahan bukanlah penyebab langsung kematian mendadak, namun dapat menjadi salah satu faktor pemicu atau pemberat sebab kematian.

“Sebab-sebab kematian mendadak dan jumlah kesakitan yang jumlahnya cukup banyak apalagi dalam kurun waktu pendek, dalam perspektif keilmuan dan kemanusiaan, seharusnya didalami dan diteliti secara serius, independen dan ilmiah,” tulisnya dalam kesimpulan diskusi public dengan tema Membedah Persoalan Sebab Kematian Mendadak Petugas Pemilu Dari Perspektif Keilmuan yang digelar di Aula PB lDl, Senin (13/05/2019).

IDI menilai menggunakan pendekatan allo anamnesa untuk menentukan sebab kematian petugas Pemilu 2019, tidak validu ntuk digunakan. Apalagi didasarkan pada Peraturan bersama Mendagri dan Menkes No 1512A10 dan 162/MenkeslPBhl2Al0 yang lebih dimaksudkan sebagai pendekatan administrasi pencatatan kependudukan semata dan bukan untuk mengungkap sebab-sebab kematian yang terjadi secara beruntun, berjumlah banyak dan memiliki implikasi yang luas.

Senada dengan Dr daeng M Faqih,  Ketua Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, Dr Umar Zein, menjelaskan tidak ada kelelahan menjadi penyebab kematian.

“Kelelahan tidak bisa langsung menyebabkan kematian. Ada tiga “pintu” kematian, yaitu otak, jantung dan paru. Bila otak tidak cukup mendapat oksigen oleh berbagai sebab, misalnya penyumbatan pembuluh darah, maka terjadi kematian sel-sel otak. Tetapi pasien tidak langsung mati. Ada mekanisme kompensasi untuk mempertahankan kehidupan sel-sel yang lain. Bahkan kematian Batang Otak disebut kematian secara medis, butuh waktu beberapa jam untuk kemudian terjadi kematian biologis, setelah jantung dan paru berhenti berfungsi. Kematian mendadak (sudden death) secara medis, akibat proses di jantung, paru atau otak atau gabungannya,” tuturnya.

Dia menegaskan gagal Jantung, gagal ginjal, gagal hati, tidak langsung mati, mungkin koma dulu beberapa hari bahkan lebih.

“Ini butuh pembuktian pemeriksan medis yang cermat. Lalu, mengapa diberitakan di media, banyak petugas Pemilu meninggal dunia akibat kelelahan? Ini pembodohan pada rakyat awam atau orang yang tidak faham ilmu medis, atau sedikit tahu ilmu medis,” ungkapnya.

Sementara itu 42 dokter spesialis dari berbagai institusi kesehatan yang tergabung dalam Komunitas Kesehatan Peduli Bangsa menganggap sebagai Bencana Kesehatan Nasional. Mereka mengatakan tidak mengenal istilah kematian karena kelelahan (fatig). Mereka mendesak pemerintah menyatakan Hari Berkabung Nasional dengan memasang bendera Merah Putih setengah tiang sampai dengan tanggal 22 Mei 2019, serta mendesak pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang independen untuk mendapatkan fakta-fakta penyebab kematian anggota KPPS.

“Sehubungan kejadian banyaknya korban jatuh, baik sakit maupun meninggal dunia yang menimpa petugas KPPS, pengawas Pemilu dan anggota Polri selama proses perhitungan suara dalam pemilu 2019, maka kami Komunitas Kesehatan Peduli Bangsa menyatakan ini sebagai bencana kesehatan nasional,” kata Ahli Manajemen Rumah Sakit sekaligus anggota Komunitas Kesehatan Peduli Bangsa Dr. Bakta Irwansyah yang didampingi 41 rekan dokter dari berbagai profesi di kantor pengacara Elza Syarief, Mneteng, Jakarta Pusat, Kamis (09/05/2019). (D. Ramdani)