Duit E-Sport Mayoritas Lari Ke Luar Negeri

SIR.COM, Jakarta – Ada yang menarik dari cuplikan debat terakhir calon presiden hari Sabtu (13/4) lalu. Saat paslon 01 Joko Widodo Jokowi bertanya ke paslon 02 Prabowo Subianto, “Apa yang akan Bapak Prabowo lakukan dalam rangka pengembangan ekonomi digital, dalam hal ini pengembangan e-sport, mobile legend ke depan,”.

Menurut Jokowi, sebagai pemerintah harus cepat tanggap dan merespons terhadap perubahan-perubahan global. “Anak-anak muda sekarang senang menjadi gamer, sebab itu pemerintah membangun infrastruktur digital baik broadband dengan kecepatan tinggi, sehingga anak-anak muda kita memiliki infrastruktur dalam mengembangkan profesinya sebagai gamers,” katanya.

Pemerintah membangun ekosistem yang nyaman bagi mereka terus berusaha membuat game. “Nilai ekonomi di bidang ini bertumbuh sangat pesat catatan yang saya terima di 2017 perputarannya sudah mencapai Rp11 triliun hingga Rp 12 triliun dengan pertumbuhan per tahun 25% sampai 30%,” kata Jokowi.

Sementara Prabowo menegaskan akan lebih memfokuskan diri terhadap hal-hal yang mendasar seperti kebutuhan pangan tersebut. “Saya memfokuskan nanti kebijakan-kebijakan saya dalam hal-hal mendasar yang menjawab kebutuhan pangan Indonesia,” kata Prabowo.

Prabowo mengatakan dirinya akan memprioritaskan diri terhadap peningkatan kualitas di sektor pertanian, kelautan, hingga kesejahteraan guru honorer. “Peningkatan produksi pertanian, tingkatkan penghasilan petani, lindungi nelayan, tingkatkan kualitas hidup para honorer,” tuturnya.

Jika kita bedah, duit e-spport yang menurut Jokowi Rp 11 triliun sampai Rp 12 triliun itu, mayoritas lari ke luar negeri. Duit itu berasal dari pembelian berbagai fitur dan booster di game online. Entah itu skin, diamond, gold dan sejenisnya.

Mengapa mayoritas lari ke luar negeri? Karena server dan kantor games asing itu tidak ada di Indonesia. Sekali lagi, yang ada malah devisa banyak lari ke luar negeri.

Di sisi lain sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental. Hal ini setelah WHO menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD), pada 18 Juni 2018 lalu. ICD merupakan sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO.

Berkaitan dengan kecanduan game, WHO memasukkannya ke daftar “disorders due to addictive behavior” atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Maka, ada benarnya ucapan Cawapres Sandiaga Uno yang  mewanti-wanti agar eSport tidak membuat akhlak pemuda menjadi buruk. “Jangan sampai eSport itu mempengaruhi agar pemuda kita tidak memiliki akhlakul karimah,” katanya. (IO-2)