Defisit Neraca Dagang Indonesia Melonjak 63%

Suasana bongkar muat pelabuhan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/10). Bank Indonesia (BI) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat pada bulan September 2016 sebesar 1,22 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus pada Agustus 2016 yang sebesar 0,36 miliar dollar AS. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww/16.

SIR.COM, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deficit neraca dagang kuartal I-2019 sebesar US$ 193 juta. Defisit ini lebih besar dibandingkan kuartal I-2018 yang mencatat surplus US$ 314,4 juta atau melonjak 62,9%. Namun, BPS memprediksi dalam sisa waktu tahun ini, neraca dagang Indonesia bakal tercatat surplus.

Penyebab defisit ini lantaran penurunan ekspor pada kuartal I-2019 mencapai 8,50% bila dibandingkan kuartal I-2018. Ekspor sepanjang kuartal I-2019 tercatat US$ 40,52 miliar, turun dari US$ 44,27 miliar.

Sementara itu impor menurun sebesar 7,39% jika dibandingkan kuartal I-2018. Nilai impor kuartal I-2019 tercatat US$ 40,70 miliar, turun dibanding kuartal I-2018 yang tercatat US$ 43,95 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, ke depan neraca dagang bisa terus mencatatkan surplus. “Januari-Maret 2019 defisitnya hanya US$ 193 juta. Pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan untuk memacu ekspor dan mengendalikan impor,” jelas Suhariyanto saat konferensi pers di kantornya, Senin (15/4).

Suhariyanto juga menjelaskan impor akan tertahan seiring dengan upaya pemerintah menahan barang untuk pembangunan infrastruktur. Meskipun demikian, dia menjelaskan tahun ini tetap harus hati-hati karena ada prediksi pertumbuhan ekonomi global serta harga komoditas yang fluktuatif.

Bukan Cuma infrastruktur, penurunan impor juga menandakan tertahannya proses produksi. Tanda-tanda turunnya proses produksi adalah penurunan impor bahan baku dan bahan penolong

Mengacu data BPS terbaru, selama Januari–Maret 2019 nilai impor ketiga golongan penggunaan barang ekonomi mengalami penurunan apabila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Yaitu penurunan barang konsumsi sebesar US$564,1 juta (14,31 persen), bahan baku/penolong US$2.397 juta (7,27 persen), dan barang modal US$293,8 juta (4,17 persen). (IO-2)