Bebaskan Ba’Asyir Tanpa Syarat, Jokowi Tampil Bak Pahlawan Kesiangan  

SIR.COM, Bogor – Kemunculan Yusril Ihza Mahendra di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jumat (18/1/2019) menjadi sorotan. Maklum pengacara dan kuasa hukum Jokowi itu mengabarkan jika ia berhasil meyakinkan Presiden Joko Widodo untuk membebaskan narapidana terorisme Abu Bakar Ba’Asyir (ABB).

Yusril mengatakan pembebasan itu merupakan bentuk respon pemerintah. “Kami jelaskan ke beliau (ABB, –red), ini betul-betul pembebasan yang diberikan Presiden. Pak Jokowi mengarakan bahwa dibebaskan jangan ada syarat-syarat yang memberatkan beliau. Jadi beliau menerima semua itu,” kata Yusril.

Ba’asyir.Dikesempatan berbeda Presiden Jokowi menyatakan keputusan membebaskan Ba’asyir karena faktor kemanusiaan. Ba’asyir diketahui beberapa kali menjalani medical check-up di RSCM, Jakarta. Ia menyatakan sudah melalui berbagai pertimbangan hingga pada keputusan membebaskan Ba’asyir. Jokowi menyebut sudah berkonsultasi dengan sejumlah pihak terkait.

“Yang pertama memang alasan kemanusiaan. Artinya, beliau kan sudah sepuh. Ya pertimbangannya kemanusiaan. Ini pertimbangan yang panjang. Pertimbangan dari sisi keamanan dengan Kapolri, dengan pakar, terakhir dengan Pak Yusril. Tapi prosesnya nanti dengan Kapolri,” kata Jokowi.

Pembebasan tanpa syarat yang diberikan pada Ba’asyir ini lantaran pria yang divonis 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) pada 2011 lalu itu enggan mengambil hak bebas bersyarat di akhir tahun lalu.

Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim dan kuasa hukum, Mahendradatta menyampaikan jika sejak bulan Oktober dan November ia telah menyampaikan jika Ba’asyir berhak bebas bersyarat 23 Desember lalu karena sudah menjalani 2/3 masa hukumannya, namun ia enggan mengambilnya.

Meski bebas, Mahendra mengatakan Baasyir tidak bersedia menandatangani dokumen apa pun yang terkait pembebasannya. Bahkan, dia mengatakan kalau dipaksa menandatangani, maka memilih tetap berada dalam penjara.

Keputusan Jokowi yang membebaskan Ba’asyir jelang Pilpres dan di kala Ba’asyir sendiri telah memiliki hal bebas bersyarat mendapat sorotan dari warganet. Jokowi bak pahlawan dengan membebaskan Ba’syir. Padahal menurut pengacara Ba’asyir, Achmad Michdan yang juga advokat dari Tim Pembela Muslim (TPM), mengatakan jika mereka telah lama meminta Usatadz Ba’syir dibebaskan. “Kami udah minta bolak-balik, juga udah kirim surat ke Presiden,” jelasnya.

Achmad Michdan mengatakan dirinya telah meminta pebebasan Ba’asyir jauh sebelum heboh kedatangan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mendadak mengunjungi keluarga Ba’asyir di Kompleks Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Cemani, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (27/02/2018). Dalam pertemuan tersebut, pihak keluarga meminta agar pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo merumahkan Ustadz ABB. Namun tak juga digubris.

“Alhamdulillah jika Pak Yusril bisa membebaskan Ustadz ABB sekarang, karena keluarga pernah memohon agar ustadz ABB dibebaskan melalui Menhan, Pak Ryamizard Ryacudu setahun lalu yang ramai di media televisi kala itu, tapi tak direspons,” ujarnya.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai pembebasan tanpa syarat Abu Bakar Ba’syir sarat kepentingan politik. Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut sebagai manuver politik.

“Apalagi dengan tagline yang membebaskan adalah pengacara TKN (Yusril Ihza Mahendra) jelas ini adalah satu manuver politik. Jadi ini adalah sesuatu manuver politik untuk mendapatkan simpati,” ujar Fadli, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/1/2019).

Waketum Gerindra itu menduga pembebasan Ba’asyir itu sebagai upaya Jokowi untuk mendapatkan simpati umat Islam di masa Pilpres 2019. Namun, Fadli yakin upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil. (DAN)