AW: Rupiah Menyentuh Rp. 14.397/USD, Semua Industri Bangkrut

SWARAINDONESIARAYA.COm – Jakarta, Melemahnya nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp 14.397 per Dolar Amerika membuat industri nasional semakin terpukul. Pasalnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika membuat harga energi khususnya gas semakin meroket.

Disaat yang bersamaan, pemerintah dinilai masih tidak bisa berbuat sesuatu bahwa komposisi ekonomi terancam karena melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika.

Selain itu, meningkatnya bahan baku olahan nan industri impor yang mencapai 70 persen dinilai semakin menambah derita para pelaku industri nasional.

Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Industri Hulu dan Petrokimia, Achmad Widjaja mengatakan, energi (gas) industri yang saat ini dibayar dengan valuta asing (Dolar) pemerintah tidak ada kompromi. Padahal, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan dibayar dengan Rupiah tetapi pihak PGN tidak menggubris ‘tetal bandel’.

“Kementerian BUMN dan ESDM tidak bertindak, bahkan melarang, alhasil industri secara keseluruhan terancam stagnan menuju bangkrut,” kata Achmad Wijaja saat dihubungi media seperti dilansir Industry.co.id di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Seperti diketahui, pemerintah memberikan masa transisi kewajiban penggunaan mata uang rupiah untuk transaksi gas bumi lewat pipa selama 15 tahun yang tertuang didalam Peraturan BPH Nomor 8 tahun 2014 tentang penetapan tarif pengangkutan gas bumi melalui pipa.

Jangka waktu 15 tahun ini terhitung sejak Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 mengenai kewajiban menggunakan rupiah diterbitkan.

Didalam Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2014 Pasal 7 dan Pasal 8 disisipkan satu pasal yakni Pasal 7A. Pasal tersebut terdiri dari dua ayat. Ayat pertama berbunyi: tarif ditetapkan menggunakan mata uang dolar AS per mscf.

Ayat kedua berbunyi: terhadap kontrak dan atau amandemen kontrak yang ditandatangani setelah tanggal 1 Juli 2015, pembayaran tarif pengangkutan gas bumi melalui pipa menggunakan mata uang rupiah. Pada saat pembayaran menggunakan acuan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sangat membebani industri, instrument Menteri Keuangan dan bank sentral tidak banyak membela industri, padahal kontribusi ekonomi datang dari Industri.

Ditambahkan Achmad Widjaja, diperkirakan energi (gas) naik hingga 27 persen dikarenakan melemahnya nilai tukar rupiah yang masih terus bergejolak.

Oleh karena itu, ia menghimbau kepada pemerintah terutama perusahaan BUMN untuk sesegera bersinergi menyiapkan perencanaan yang matang tentang industri hulu seperti penggabungan Pertamina Petrokimia Gresik dan PT Pupuk untuk industri hulu dan petrokimia agar tidak bergantung pada bahan baku impor dalam kurun waktu 5-15 tahun kedepan.

“Itu harus segera dilakukan, siapapun Presiden-nya nanti,” terang pria yang akrab disapa AW.

Menurutnya, pemerintah terlalu fokus di sinergi infrastruktur dengan melupakan industri berbasis ekonomi yang mana menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ini sangat bahaya dalam proses penerimaan pajak negara,” tegasnya.

Lebih lanjut, AW mendesak Menteri BUMN untuk segera mensinergikan industri hulu yang berbasis ekonomi pada tahun politik 2019, agar ada strategi yang lebih matang untuk inkumben maju ke dua periode.

“Pemerintah sudah tidak bisa menanti dolar 15 ribu terus melambung, industri akan stagnan dengan biaya yang tidak terduga,” pungkas AW.